Chapter 15 – “Dia bukan aku, Aku bukan dia”

Leave a comment

“Bayu, muka kamu kok sedih gitu? Ada apa? Cerita dong.” Tanya Anggi sambil gelisah.

“Oh nggak apa-apa, tadi aku bingung kirain ada siapa.”

“Hah ada siapa maksudnya?” Tanya Anggi lagi sambil gelisah.

Suasana tetap berdansa meskipun ada rasa kebingungan. Sebenarnya aku benar-benar tidak tahu dengan siapakah aku berdansa.

—————————————————————————————————–

Aku melihatnya dari jauh. Aku sedih. Tidak tahu harus bicara apa. Kenapa harus dia? Kenapa harus dia? Rasanya seperti mimpi.

Aku berlari kencang dan langsung balik pulang kerumah. Perasaanku langsung campur aduk. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Kenapa harus dia yang harus ditemui? Bukan aku. Mungkin aku terlambat, dia sudah menunggu lama dan ada seseorang yang mengajaknya berdansa.

Sepulangnya aku dirumah, aku langsung pergi ke kamar. Kebingungan. Dan langsung menulis puisi didalam buku diariku. Untuk pertama kalinya.

10 Desember 2012

‘Aku,

Hidupku seperti roda, kadang diatas kadang dibawah

Tapi waktu tidak bisa ditawar lagi,

Ia akan berjalan terus tanpa henti

Mungkin Ia akan berhenti ketika kiamat telah datang

Menurutku, hal yang terberat dalam hidup ini adalah “Awal dan Akhir”.

Awal, dimana ada tempat untuk menyesuaikan diri & bertemu dengan hal baru, sulit diresapi dan butuh proses yang lama. Terkadang, sebuah awalan itu adalah langkah yang terbaik untuk ditemui tapi sulit untuk dilaksanakan.

Akhir, dimana kita harus meninggalkan tempat itu dengan berat hati. Apapun akhiran kisah tersebut, pasti lebih berat karena kita sudah berkecambung dengan prosesnya.

Aku,

Telah menunggumu sejak lama

Maafkan bila aku telah membuatmu kecewa.

Maafkan bila aku tak sempurna.’

Wajah Anggi seolah-olah aku melihatnya di jarak dekat ketika aku menulis puisi ini.

Keesokan harinya handphoneku berbunyi. Tidak berhenti. Ternyata bunyi SMS dan telepon.

‘Sayang, tadi malem aku bingung banget kamu kenapa. Aku nggak ngerti kenapa kamu kelihatan aneh. Dan biasanya kamu anterin aku pulang. Kamu lagi kenapa sih?’

Anggi juga meninggalkan pesan, tapi aku mencoba untuk menghiraukannya.

Aku mencoba untuk menghiraukan SMSnya. Aku mencoba untuk menghiraukan dia.

Aku ingin berdiam dirumah dan tidak mau kemana-mana. Hari ini hari Minggu, biasanya Ibu suka memasak menu favoritku – lontong cap gomeh.

“Bayu, kamu mau dimasakin apa? Lontong Cap Gomeh ya? Ibu udah ada perlengkapannya nih.”

“Nggak Bu, aku nggak laper.” Sebetulnya didalam hati aku pengen tapi agak gengsi untuk keluar dari kamar.

“Aku lagi pengen istirahat aja Bu, Ibu aja yang makan.”

Mengingat kejadian kemarin, rasanya nggak mau diingat-ingat lagi. Aku nggak ngerti dengan kejadian tadi malam. Apa selama ini Anggi mempunyai pasangan lain?

Advertisements

Chapter 14 – “Kesempatan Tidak Pernah Hilang”

Leave a comment

Sudah belasan tahun aku menunggu kesempatan cemerlang itu. Tapi entah kesempatan cemerlang itu akan seperti apa. Mulai kapan aku akan mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa berpenghasilan lebih besar? Aku nggak bisa ngojekin tiap hari terus! Aku harus berbuat sesuatu!

Darisitu aku membuat sebuah gol yang dimana akan aku letakkan dipikiranku bahwa tahun ini aku harus mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada hari ini. Aku yakin suatu saat penghasilanku akan bisa lebih dari kecukupan daripada hari ini. Masa depanku akan lebih cerah daripada hari ini. Aku yakin dengan semua itu. Pasti akan terjadi!

Setiap hari aku mengojek pagi hingga malam. Entah siapapun orang yang ikut serta duduk dibelakangku, permintaan mereka pasti aku tepati – menurunkan mereka pada tujuannya. Setiap haripun juga selalu banyak pelanggan. Salah satunya adalah karyawan yang bekerja disebuah hotel yang sangat terkenal. Pemilik hotelnya saja kaya banget. Andai aku bisa mempunyai hotel sebesar itu.

‘Bang Ama, anter ke kantor lagi bang. Seperti biasa dah.’ Suara familiar yang sudah terbiasa kudengar ditelinga berbicara kepadaku. Beliau bernama Nathan. Biasanya aku panggil dia Bang Nat.

‘Iya Bang Nat, pasti sampai dengan selamat!’ Balasku dengan ucapan positif. Pikiran positif itu memang selalu enak dihati.

Setiap pagi Bang Nat memang selalu berlangganan untuk antar jemput denganku. Dimalam haripun dia juga selalu menelpon sehabis bekerja.

Aku sudah kenal dekat dengan Bang Nat sudah belasan tahun. Lebih tepatnya ketika aku baru mulai mengojek, beliau melihatku dari jauh dan aku sudah tau dia pasti meminta diantar ke kantornya. Setiap pagi Bang Nat selalu bercerita tentang kisah hidupnya. Beliau tidak pernah berhenti untuk mengisahkan cerita-ceritanya tersebut. Akupun yang biasanya tidak begitu tertarik mendengar cerita orang, kali ini aku sangat kagum dan ingin tahu lebih lanjut tentang cerita beliau. Bang Nat orangnya asik banget buat diajak obrol!

Selama diperjalanan, Bang Nat tiba-tiba bertanya diluar jangkauanku…

‘Jadi kamu selama ini pekerjaannya apa selain ngojek Bang?’ Tanya Bang Nat.

‘Ya ngojek aja Bang. Mau ngapain lagi? Haha.’ Balasku dengan pupus akan harapan.

‘Oh nggak apa-apa. Aku ngeliat kamu kayaknya kasian banget. Selama ini aku baru merasa nyaman sama tukang ojek. Belum pernah kayaknya tukang ojek seramah dan sejujur Abang Ama. Beneran deh.’

‘Bisa aja si Bang Nat. Nggaklah Bang, saya mah biasa saja. Manusia biasa juga bisa bohong kok haha.’ Jawabku dengan sambil bercanda.

‘Oh iya, kamu tertarik nggak buat kerja di tempatku? Lumayan buat biaya hidup! Nanti aku promosiin.’

‘Wah Bang. Saya belum layak tampaknya untuk bekerja di kelas atas seperti itu. Kayaknya saya harus memulai dari bawah dulu.’

‘Justru ini kesempatannya Bang! Kamu harus coba. Nanti aku atur kamu pake baju apa, aku bakal akalin deh pokoknya. Kita kekurangan karyawan buat koki dan customer service. Tapi terserah kamu nanti mau milih yang mana.’

Wah, kesempatan apa ini tiba-tiba datang tanpa diundang? Hmm, diundang sih tapi aneh aja rasanya. Tapi campur seneng juga!

‘Kamu pasti akan enjoy kerja disana. Selain nambah koneksi, kamu juga bisa belajar masak secara professional.’

Dari pembicaraan aku dan Bang Nat, aku merasa lebih PD untuk bekerja di tempatnya. Apapun itu, tapi untuk bekerja disebuah kantor, rasanya lebih nyaman dan tentram. Apa lebih baik aku coba saja ya? Kalo nggak cocok, aku bisa kembali lagi untuk ngojek.

‘Boleh deh aku coba. Kapan aku bisa mulai, Bang Nat?’

Chapter 13 – “Perasaan Buruk”

Leave a comment

6 bulan kemudian…

Hari ini ada acara spesial di hotelku. Belakangan ini lagi banyak orang kawinan. Minggu lalu ada 3 booking. Minggu ini ada 4. Semoga semua acaranya berjalan dengan lancar deh.

Kebetulan ada saudara Anggi menikah di hotelku. Dia mengundang sekitar 1000 orang. Cukup banyak dan kebetulan hotel ini punya ballroom besar.

Sebelum hari H, Anggi menghampiri ke hotelku karena sudah lama tidak bertemu. Aku senang pada akhirnya dia mau lulus. Mungkin aku dan dia sudah tahu rencana selanjutnya seperti apa. Hihi.

Ketika aku bertemu dengannya,  aku memeluknya, menciumnya, saking kangennya aku sama dia.

“Sayang, udah lama kita gak ketemu. Gimana? Besok jam berapa mulai pernikahan saudara kamu?” Tanyaku.

“Besok akad nikahnya sih sekitar jam 10 pagi. Resepsi jam 7 malam. Kamu ikutan aja kalo kamu gak sibuk.” Balasnya dengan senyum.

“Aku usahain ya. Malam ini kayaknya aku pulang agak cepat. Mungkin jam 8 malam aku udah balik dari hotel. Kamu ada kegiatan gak nanti malam? Kita ke bar deket sini yuk! Ada temen aku manggung malam ini disana.”

“Boleh banget! Aku kan udah libur dan bulan depan udah mau lulusan. Jadi kamu bisa kabarin aku kapan aja. Jam 9 malam ketemu disana ya?”

“Oke!” Balasku lagi dengan semangat.

Hari ini berlangsung lama. Tapi aku juga tidak sabar untuk menunggu temanku perform hari ini. Pasti bakal seru!

Aku menelpon Ibu untuk mengabari dia bahwa aku akan pulang telat malam. “Bu, maaf ya malam ini aku kayaknya pulang malam sekitar jam 12. Kalo Ibu mau tidur duluan, tidur dulu aja. Nggak usah tunggu aku.” Kataku di telepon.

“Oke sayang. Kamu hati-hati ya. Jangan larut malam pulangnya.” Balasnya.

Setelah menutup telepon, Ibu mempunyai firasat buruk. Entah itu apa. Tapi malam ini akan ada kejadian yang tidak mengenakkan. Tapi entah itu apa.

“Aku jadi ingat waktu buku diariku dibawa oleh Bayu. Sekarang aku takut kalo dia pernah membacanya.” Katanya sambil menggigit kuku.

Pada saat waktu yang sama, Ibu juga punya perasaan buruk.

10 Desember, 2012

“Aku khawatir dengan sesuatu yang membuatku kepikiran terus. Entah kenapa aku khawatir dengan anakku. Aku gak mau dia pulang terlalu malam. Tapi kalo aku telepon balik lagi, nanti kesannya aku mengganggu. Semoga gak ada apa-apa.”

Diari tersingkat yang pernah Ibu tulis hari ini.

Jam 7 malam…

Satu jam lagi aku akan bertemu lagi dengan sang pacar. Dan yang terpenting lagi, hari ini akhirnya aku bisa agak sedikit santai. Akhirnya….Setelah beberapa bulan menetap di kantor berjam-jam dan pulang tanpa kegiatan diluar kantor. Hari ini adalah saatnya!

“Sayang, aku udah sampe yah. Kabarin aku kalo kamu udah deket. Love u.” Kata Anggi di SMS.

Aku lupa untuk membalas SMSnya. Tiba-tiba ada desakan yang membuatku telat untuk datang ke bar.

Satu jam kemudian….

“Si Bayu mana yah? Kok sampe jam segini belum dateng juga. Katanya ada temen manggung…” Kata Anggi sambil melihat jam tangannya.

Lalu, show telah dimulai. Lagu pertama yang dibawanya bernuansa Jazz. Lagu yang bikin semua orang ingin berdansa.

“Bayu! Akhirnya kamu dateng juga. Abis darimana aja kamu kok telat?” Tanya Anggi.

Anggi jadi bingung. Tiba-tiba aku terdiam dan tidak tahu ingin bicara apa.

“Sayang aku kangen!” Kata Anggi sambil menarik tanganku untuk berdansa di depan panggung.

Selama show berlangsung, wajahku penuh dengan tanya. Siapakah dia? Siapakah orang yang aku sedang berdansa?

Chapter 12 – “Mencari Peluang”

Leave a comment

20 Agustus, 1998

“Alhamdulillah aku berkesempatan untuk tinggal di rumah si abang. Nama akrabnya memang cuma abang Jamal. Dari hari pertama aku sudah merasa nyaman untuk berbicara padanya. Berkeliling seharian di Jakarta itu merupakan pengalaman pertamaku untuk “berwisata”. Semoga dilain waktu aku bisa menikmati masa-masa seperti ini lagi.

Hari ini aku akan ikut kerja bakti di kampung abang Jamal. Meskipun sekarang aku masih tinggal di kampung, aku yakin suatu saat aku akan tinggal di rumah mewah dan dilayani oleh para pelayan. Ah, kenapa sih impianku belakangan ini terlalu tinggi? Berpikir sesuatu yang gak akan mungkin terjadi.

Tunggu, pasti ini terjadi!

Sudah dulu deh, kalo aku sudah selesai kerja bakti, aku akan lanjutkan dan semoga aku bisa dapat kamera setelah aku bisa mendapatkan banyak uang.”

Kerja bakti hari ini berjalan dengan lancar. Aku bertemu dengan orang-orang banyak di sekitar kampung. Mereka menyapaku dengan ramah-tamah. Aku pun juga.  Setelah itu aku balik ke rumah Bang Jamal. Dia sedang memasak makan siang.

Selama ini Bang Jamal tinggal sendiri dirumahnya. Orang tuanya sudah tiada dan kakaknya sudah berkeluarga. Sampai hari ini dia masih sendiri. Sayang, orang baik seperti dia belum ada siapa-siapa.

“Jadi, besok abang ngojek jam berapa?” Tanyaku sambil mengunyah makanan.

“Sekitar jam 6 pagi. Biasanya banyak orang berangkat kerja jam segituan. Kamu ikut aja. Ngapalin jalan lagi biar kamu cepet inget.” Balasnya.

“Iya, tapi mungkin aku mau kerja sambilan juga kayak jualan barang. Atau di warung…?”

“Boleh aja, kamu bisa bantu orang di warung dekat sini dan kebetulan dia juga punya rumah makan. Kamu bantu dia aja. Kasihan selama ini dia juga sendirian kerja nya.”

Setelah aku berpikir-pikir lagi, ternyata bekerja untuk hidup itu memakan waktu yang lama. Tapi aku yakin suatu saat aku akan tinggal di rumah mewah dan dilayani oleh para pelayan. Lagi-lagi aku mengucapkan kata-kata yang sama!

Aku akan berusaha untuk mencari peluang sebanyak-banyak. Apapun itu akan aku ambil. Aku percaya dengan pikiran positifku. Semangat!

Chapter 11 – “Aku Tidak Bisa Berhenti Menulis!”

Leave a comment

Demikian apa yang pernah dilakukan oleh Anne Frank dengan judul bukunya “The Diary of a Young Girl”. Ketika aku mengingat kembali tentang beliau, aku menyamakan hal dengan Ibuku yang tidak bisa berhenti menulis buku diarinya setiap hari. Aku sedang duduk di ruang tamu sambil menonton TV. Sedangkan Ibu sedang menulis diarinya sambil membaca halaman-halaman sebelumnya. Sepertinya Ibu sedang bernostalgia.

10 Juni, 2012

“Hari ini ada yang membuat aku bangga. Setelah bertahun-tahun akhirnya impian anakku tercapai juga. Semoga hotel yang sudah ia bangun akan selalu tentram dan makmur.

Akan tetapi, aku masih saja teringat tentang masa lalu dengan Andi. Aku menyesal sekarang hidup tanpa dia dan aku udah gak tahu dia dimana sekarang. Semenjak dia pergi, aku jadi kembali berpikir tentang kata-kata apa yang sudah aku keluarkan kepadanya. Aku memang salah. Aku memang bodoh. Gak seharusnya aku berlaku kepadanya seperti itu.

Aku juga rindu dengan anakku. Andi yang membawanya pergi. Aku ingin melihat mereka lagi. Aku rindu dengan mereka.”

Setelah Ibu menulis buku diarinya, aku menanyakan sebuah pertanyaan.

“Bu, sebenarnya apa pentingnya sih menulis? Kalo menurut analisaku, menulis itu menunjukkan kegalauan. Seperti hal ketika aku sedang sedih, dan aku menulis tentang perasaan yang aku rasa. Tapi setelah itu, aku membuang tulisan itu karena aku gak mau mengingat-ingat lagi.”

“Kamu pernah dengar menulis bebas? Nah, dari dua kata ini kamu bisa simpulkan bahwa menulis bebas bisa menulis apa saja yang kamu mau. Dari menulis diari, Koran, majalah, cerpen, dan yang lainnya. Hanya satu yang kamu perlukan yaitu kreatifitas. Kamu harus kreatif dalam mengimajinasi tentang apa yang kamu pikirkan. Kemudian kamu tuangkan itu kedalam sebuah tulisan. Dan tulisan tersebut akan kamu rangkai sebaik mungkin sehingga ketika kamu membaca, kamu memahami apa yang kamu tulis.” Balas Ibuku dengan passionate-nya itu.

Percakapan aku dan Ibu tidak berlangsung lama. Karena sudah terlarut malam, aku balik ke kamar dan istirahat.

Anggi pun SMS. “Sayang, maaf ya belakangan ini aku lagi susah banget buat dihubungin. Tapi aku kangen banget sama kamu! Besok ketemuan yuk di tempat biasa.”

Baru saja aku menutupkan kedua bola mataku dan tiba-tiba pacarku memberi kabar. Perasaanku langsung campur aduk antara senang, sedih, kangen. Ah, pokoknya campur aduk deh!

Keesokan harinya aku berangkat kerja pagi. Namun, Ibuku menelpon ketika aku masih dijalan.

“Nak, kamu lupa membawa bekal dirumah. Mau Ibu antar?”

“Nggak kok Bu bekalnya ada di tasku.”

“Masa sih? Ini bekal kamu masih di meja makan kok.”

Selagi aku berhenti di lampu merah, aku mengecek barang-barang yang ada di tasku. Dan…

“Aduh, kenapa aku bawa buku doang? Buku siapa nih?”

Aku melihat dari cover buku depan dan belakang.

“Wah, ini kan buku diarinya Ibu! Kok bisa ada di tasku!?”

Aku langsung panik. Aku yakin akan dimarahi Ibu ketika aku tiba dirumah nanti malam. “Aku gak akan baca buku ini. Aku tahu ini privacy beliau. Aku takut beliau marah.”

Tanpa disadari, Ibu tidak tahu bahwa beliau menulis buku diari di meja makan di pagi hari dan tempat bekal tersebut mempunyai warna yang sama – coklat. Tanpa disadari juga, Bayu sedang terburu-buru untuk berangkat kerja, dan tidak memerhatikan barang yang diambilnya di meja makan.

Chapter 10 – “Senang Yang Tak Berujung”

Leave a comment

Setibanya aku di Jakarta, perasaanku tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ketika aku melihat Tugu Monas, hatiku langsung berdebar-debar sambil meneriakkan namaku. “AMANG TIBA DI JAKARTAAAA!”

Tak lupa aku menulis moment yang amat sangat penting ini. Hari ini, detik ini, aku tiba di Jakarta dengan bangga! Walau sendirian, suatu saat nanti aku akan memperlihatkan betapa indahnya kota Jakarta ini kepada Ayah. Beliau pasti bangga ketika aku sudah sukses disini.

15 Juli, 1998

“Akhirnya aku tiba di Jakarta. Kota metropolitan. Kota yang penuh dengan berbagai suasana. Orang-orang yang ramah tamah kepada satu sama lain. Akhirnya impianku tercapai juga. Menggapai sesuatu yang tidak mungkin itu ternyata bisa terwujud! Tuhan memang adil. Tapi pertanyaannya sekarang, pekerjaan apa yang membuatku bisa sukses? Jadi pengusaha? Dokter? Pemilik restoran? Atau pemilik hotel? Ah semuanya terdengar terlalu tinggi!

Andai saja aku bisa sekolah lagi. Aku bisa telusuri bidang yang selama ini aku sukai. Selama ini aku ingin menjadi pemilik hotel. Hotel bintang lima. Kalo perlu bintang sepuluh deh. Aku yakin dari pekerjaan itu aku akan menghasilkan uang yang sangat banyak! Setelah itu, aku bisa membawa ayah kesini! Ah, mungkin impianku terlalu tinggi.”

Sepanjang jalan dari turun bus, aku melihat supir ojek sedang menikmati rokok yang dihisapnya. Tiba-tiba aku terdiam sambil melihat dia merokok dengan gaya duduknya diatas motor. Aku melihat setiap rokok yang dihisap itu menghasilkan asap yang unik, dan berbeda dengan asap gas tentunya. Melihat gayanya, mataku langsung terpana dan mengucapkan dalam hati, “Apa sebaiknya aku memulai karir dari supir ojek saja ya? Motor banyak yang nganggur dan ngisap rokok sepertinya juga terlihat keren!”.

Karena aku mengikuti apa kata naluriku, aku langsung menyapa supir ojek tersebut. “Bang, lagi ngojek bang hari ini?” Tanyaku. “Iye, mau naik dek? Sini abang anter. Kemane aje terserah dah!” Balasnya dengan logad betawi itu.

“Hmm, sebenernya sih aku pengen jadi supir ojek bang. Tapi aku masih belum punya sim. Tapi…aku bisa setir motor kok!” Kataku dengan penuh keyakinan.

“Wah, sebaiknya adek daftar sim C dulu deh baru bisa ngojek. Tapi kalo mau bandel-bandel sih ya gak ape-ape asal adek musti ada waktu buat daftar ye!”

“Iye, tenang aje bang. Beres deh kalo itu! Tapi aku baru aja sampai di Jakarta nih dan belum tau jalan. Jadi kalo abang ajak aku keliling Jakarta buat ngapalin jalan bisa gak bang?” Balasku dengan mengikuti logad betawi pula.

“Hahaha…si adek ini lucu sekali. Jakarta itu besar lho gak kayak kota-kota kecil yang lain! Kamu gak bisa jadi supir ojek kalo kamu gak tau jalan!” Balasnya tertawa.

Aku pun juga ikut tertawa dan berpikir ternyata benar apa yang si abang ini pikirkan. Setelah bersenda gurau dengannya selama 5 jam, aku memintanya sekali lagi untuk keliling Jakarta. Dan jawabannya….

“Boleh, asal kamu traktir abang ye! Haha bercanda…” Katanya sambil tertawa lagi.

Alhamdulillah, baru hari pertama aku sudah menikmati percakapan dengan seseorang yang amat enak untuk diajak berbicara. Ini sebuah sejarah yang pasti akan ku tulis di diariku nanti malam!

Setelah seharian berkeliling, aku mengakui bahwa Jakarta memang sangat dan sangat luas nan pula kaya. Dengan suasana yang ramai, kendaraan yang tertib, dan orang-orang yang ramah tamah membuatku menjadi semakin nyaman untuk tinggal disini. Bisa-bisa aku tak akan kembali ke tanah asalku, Kudus. Tak apalah, tujuanku ke Jakarta memang niatnya untuk diriku sendiri. Aku ingin tahu bagaimana rasanya bekerja untuk mendapatkan banyak uang. Aku ingin tahu bagaimana rasanya tinggal di kota. Maafkan aku Yah, ongkos ke Jakarta aku pakai tanpa seizin Ayah. Suatu saat nanti akan aku kembalikan semuanya.

Chapter 9 – “New Faces”

Leave a comment

“Jo, beberapa minggu lalu kita sempat diskusi tentang recruitment kan? Kamu udah sempat bertemu dengan calon-calonnya belum?” Tanyaku pada salah satu anak buahku, Jonathan.

“Oh iya, Pak. Saya kemarin bertemu enam calon. Tiga dari mereka menginginkan posisi sebagai koki. Nah, sebenarnya hal ini saya ingin sampaikan ke Bapak tentang bagaimana baiknya. Mungkin Pak Bayu sebaiknya bisa bertemu mereka langsung agar bisa tahu apakah mereka sangat menginginkan posisi ini. Bagaimana Pak?” Balasnya.

“Hmm.. Boleh saja. Tapi waktu saya tidak bisa lama-lama. Saya harus bertemu dengan lima pelanggan baru yang akan menginap selama seminggu. Jadi kamu atur schedule-nya saja soal jam dan tanggalnya.” Kataku lagi.

Pembicaraan itu berlangsung sebentar dan kita berdua memutuskan untuk bertemu dengan karyawan baru esok hari.

Tiba-tiba Ibuku menghampiri hotel dan membawa rantang. Sepertinya sih Ibu membawa makan siang untukku. Tapi kok jam segini tumben banget Ibu kesini?

“Bayu, Ibu bawain kamu nasi rantang. Kamu udah makan belum?” Tanya Ibu sambil membawa rantang.

“Wah, Bu. Tumben kesini. Iya Bu gak apa-apa aku belum begitu laper.” Balasku.

Waktu itu perasaanku campur aduk. Sambil mengurusi recruitment, tiba-tiba Ibu menghampiri tanpa memberitahu sebelumnya.

“Maaf Bu, tapi aku lagi kerja. Ibu taruh rantangnya di meja kerja aku aja Bu.” Kataku sambil berlari untuk menghampiri pelanggan yang baru dating ke hotel.

Tanpa banyak kata, Ibuku langsung menaruh rantang ke meja kerjaku. Pada saat itu di ruang rapat sedang tidak ada orang. Dan Ibuku duduk di meja kerjaku sambil melihat-lihat suasana ruang rapat itu.

Pintu ruang rapat tersebut juga tidak terkunci. Anehnya, Ibu tidak langsung keluar dari ruangan dan mengeluarkan buku diarinya. Setelah itu beliau menulis tentang kegiatan pada hari itu.

Pada saat itu aku sedang mengurusi penerimaan karyawan-karyawan baru yang akan masuk ke hotelku dengan rekan kerjaku, Jonathan. Disaat waktu yang bersamaan juga, aku dan dia sedang berada diluar ruang rapat. Sekitar 15 orang menghampiri ke hotelku untuk melamar kerja. Sungguh, perasaanku sudah tidak bisa dipertanyakan lagi. Aku sangat bangga dengan semangatnya calon-calon ini!

Dari sekian lima belas calon employee di hotel ini, aku dan Jonathan hanya memilih 6 orang. Diantaranya Suzanna, Ari, Lia, Lukman, Zumi, dan….satu lagi aku lupa namanya. Mereka aku hire sebagai koki, customer service, dan pelayan hotel. Semoga pekerjaan-pekerjaan ini menjadi cocok untuk mereka.

Tanpa rasa khawatir, aku langsung memberikan tugas pada mereka masing-masing setelah interview. Lama-lama pekerjaanku makin exciting! Semakin seru! Aku semakin menikmati apa yang aku kerjakan. Hotel 8 lantai ini sangat membantuku untuk menafkahkan keluarga juga. Selain untukku, yang terpenting adalah untuk ibuku yang sudah tinggal dirumah tanpa bapak.

“Jo, tadi yang kamu hire namanya siapa? Muka dia menarik juga.” Tanyaku sambil menggaruk kepala. “Oh, namanya bang Aga. Sebenarnya aku udah langganan ojek sama dia 5 tahunan. Mungkin selama ini aku gak pernah cerita. Dia orangnya enak diajak ngobrol banget loh, Yu. Dijamin deh, pasti dia kerja disini semakin bagus!” Balasnya dengan penuh confident. “Oke deh aku percaya sama kamu, mas Jo! Kita liat progressnya ya dalam 1 bulan.”

New faces. Ya, setelah beberapa karyawan meninggalkan hotel ini dan, mungkin, menemukan pekerjaan baru, akhirnya aku melihat muka-muka baru lagi untuk ke sekian kalinya. Semoga saja mereka bisa diandalkan untuk bekerja di hotel ini.

Setelah aku bertemu karyawan-karyawan yang baru di-interview, aku menghampiri meja kerjaku. Ternyata Ibuku masih menulis diarinya dan terlihat sangat serius. Awalnya aku ingin menanyakan tentang apa yang beliau tulis. Tapi gak deh, nanti beliau merasa terganggu. Tapi…aku berfikir untuk menanyakan hal yang lain kepada beliau.

“Ibu udah selesai makannya? Lagi ngapain, Bu?” Tanyaku sambil buka pintu.

“Iya nak, Ibu lagi nulis keperluan buat belanja di pasar nanti. Kamu butuh apa sayang?” Tanya Ibuku balik.

“Nggak, Bu sudah. Nanti saja. Kalau Ibu mau istirahat ada ruang tidur disebelah ya Bu atau gak istirahat di rumah aja kalau Ibu capek J.” Balasku dengan senyum.

Nyatanya Ibu memang lagi sibuk menulis buku diarinya itu. Selama ini memang aku gak pernah menanyakan apa yang beliau tulis. Mungkin suatu saat selagi ada kesempatan, aku bisa membaca diarinya tanpa sepengetahuan beliau. Tapi tunggu…Jangan deh. Ah, jadi ragu nanti dimarahin!

Setelah aku keluar dari ruangan kerjaku, aku kembali ke Jonathan sambil berharap panjang lebar kepadanya. “Jo, doain ya semoga karyawan-karyawan yang baru ini cocok sama kita. Belum lama nih hotel aku bangun. Baru 5 tahun!”

“Tenang aja, si bang Aga dan kerabat-kerabatnya bisa ngandalin kok! Pokoknya kita liat aja nanti, aku yakin banget dengan progressnya hotel ini akan semakin membaik! Toh selama ini pelanggan sering datang juga kan. Ya, seenggaknya buat makan siang atau malam saja karena menu-menu makanan kita juga fancy!”

Dengan penuh keyakinan, aku percaya dengan apa kata Jonathan. Melihat satu bulan kedepan itu memang butuh waktu yang sebentar tapi terasa lama. Namun, aku percaya dengan hal-hal positif yang akan dibangun oleh karyawan-karyawan yang baru aku hire hari ini. Semangat baru, baru saja dimulai!

Older Entries Newer Entries