Aku mencoba untuk berpikir jika aku bisa menanyakan hal tentang ini. Apakah aku perlu untuk menanyakan kepada beliau sekarang?

Hatiku masih bertanya-tanya. “Apa benar aku masih ada keluarga lagi?”

Dalam sekejap, aku mencoba untuk mengabaikan pernyataan yang Ibu tulis dihalaman itu. Aku mencoba untuk melupakannya.

Keesokannya hari Minggu. Hari libur. Hari tidur. Meskipun nanti siang aku akan pergi lagi untuk cek hotel. Ibu juga akan ke pasar.

“Bayu, Ibu pergi dulu ya. Kamu hati-hati dirumah. Jangan lupa beresin rumah.” Kata Ibu sambil meninggalkan rumah.

“Siap Bu!” Jawabku dengan tegas.

Sambilku bersih-bersih rumah, aku melihat selembar kertas yang tergeletak di meja kerja Ibu. Dengan rasa kepenasaranku, aku mencoba untuk melihat kertas itu.

“Kartu keluarga?”

Disebelah kartu keluarga juga ada buku diari Ibu. Nampaknya Ibu lupa lagi untuk membawa bukunya.

Aku mencoba untuk membaca lagi halaman demi halaman. Ternyata, banyak cerita nyata yang aku nggak pernah tahu.

31 Januari 1991

‘Aku capek. Aku lelah. Lebih baik kita berpisah saja. Nggak ada cara lagi untuk kamu memuja aku. Selamat tinggal, Andy.’

Halaman selanjutnya..

1 Februari 1991

‘Aku,

Hidupku seperti roda, kadang diatas kadang dibawah

Tapi waktu tidak bisa ditawar lagi,

Ia akan berjalan terus tanpa henti

Mungkin Ia akan berhenti ketika kiamat telah datang

Disini, aku ingin bercerita tentang kehidupanku saat ini

Hidupku telah berubah dalam beberapa bulan ini

Setiap malam, setiap hari, aku menangis dengan kesendirian

Sering kali aku tidak bisa menahan betapa pahitnya musibah yang telah kuterima

Aku terjatuh, tanganku membengkak

Betapa sakitnya musbah yang kualami

Menurutku, hal yang terberat dalam hidup ini adalah “Awal dan Akhir”.

Awal, dimana ada tempat untuk menyesuaikan diri & bertemu dengan hal baru, sulit diresapi dan butuh proses yang lama. Terkadang, sebuah awalan itu adalah langkah yang terbaik untuk ditemui tapi sulit untuk dilaksanakan.

Akhir, dimana kita harus meninggalkan tempat itu dengan berat hati. Apapun akhiran kisah tersebut, pasti lebih berat karena kita sudah berkecambung dengan prosesnya.

Aku,

Telah menunggumu sejak lama

Maafkan bila aku telah membuatmu kecewa.’

Kenapa kata-kata ini sangat persis sekali dengan kata-kata yang pernah kutulis di diari!?

Lalu, aku mencoba untuk membaca halaman yang lain lagi…

1 Maret 1994,

‘Maafkan aku, Ayah. Aku nggak bermaksud untuk membuat kejadian seperti ini. Maafkan bila aku mempunyai salah-salah yang membuatmu kesal. Aku nggak pernah nyangka pada akhirnya kita seperti ini. Tolong jagain Amang. Aku sayang sama dia. Aku pengen kalian balik lagi dirumah. Seperti dulu. Aku ingin kita hidup bersama-sama lagi.’

Setelah membaca kalimat-kalimat tersebut, aku langsung berhenti membaca diari Ibu. Diarinya hampir kusobek. Saking kesalnya.

‘KENAPA DARIDULU IBU NGGAK PERNAH CERITAAA?’ Teriakku dengan kencang seolah-olah orang-orang tidak mendengar.