Perasaanku mulai sedih. Perasaanku mulai nggak sama seperti biasanya. Detak jantung semakin kencang. Apakah ini sebuah awalan dari jatuh cinta?

Aku ingat ketika aku bertemu dengannya di sebuah café terdekat dari hotel sini. Dia menyapaku dan menyebut nama Bayu. Aku berdansa dengannya hingga larut malam. Ku ingat malam itu penuh dengan kenangan…meskipun hanya beberapa jam saja.

Wajahnya yang cantik, hidung yang mancung, mata yang bersinar, membuatku semakin terpana dengannya. Setiap kali dia menghampiri, aku seperti seseorang yang bisa membahagiakan dirinya. Sayangnya, dan nyatanya…orangnya bukan aku.

Hingga hari itu, aku melihat dia dari jauh. Dia berpegangan tangan dengan lelaki yang kukenal. Sang lelaki itu adalah orang atasanku yang sudah berjasa dan membuat aku bekerja di hotel ini. Sekarang aku menjadi merasa bersalah.

Hari ini bukan hari yang baik untuk melihat pemandangan. Apalagi melihat perempuan itu. Sekarang aku ingin tahu siapa namanya.

Tanpa sengaja aku bertemu dia lagi di depan elevator. Dia sedang menuju keatas mengunjungi saudaranya dari luar kota yang sedang menginap di hotel ini.

“Bayu, kamu ngapain bawa-bawa barang berat gitu? Mau aku bantuin?” Tanya perempuan itu.

“Ah enggak nggak apa-apa, nggak usah.” Jawabku sambil gugup.

Kenapa masih saja manggil aku Bayu?

Kami berdua kebetulan mengambil elevator yang sama. Naik ke lantai 8.

“Mau ke lantai berapa mbak?” Tanyaku.

“Kamu nggak kayak kenal aku aja, Yang.” Balasnya.

Yang!? Sejak kapan perempuan ini manggil aku pake yang-yangan.

Sesampainya kami di lantai 8, kami menuju ke tujuan masing-masing.

Tapi ternyata kami mempunyai tujuan yang sama.

Kami menuju ke ruangan 808.

Akan tetapi tujuan kami berbeda untuk ke kamar tersebut.

Ting tong! Bel berbunyi. Perempuan itu memencet belnya.

(Pintu terbuka) “Hey, akhirnya datang juga! Udah lama nggak ketemu ya.” Kata orang yang membuka pintu sambil cipika cipiki dengan perempuan itu.

Ah, namanya siapa sih perempuan itu? Aku selalu menyebutnya dengan ‘perempuan itu’ dan aku ingin tau namanya sekarang.

“Wah, Anggi udah disini! Ayo masuk-masuk.”

Oh, ternyata namanya Anggi.

Namun, tujuanku ke kamar ini hanya mengantarkan makanan. Lain itu, aku langsung meninggalkan tempat.

Dan ternyata orang-orang yang berada di kamar tersebut adalah saudara-saudara dari Anggi. Saudara-saudaranya pun cantik-cantik. Nggak heran kalau Angginya juga cantik.

 

Advertisements