Dengan perlahan-lahan halamannya kubuka lagi. Ternyata, sepertinya ada anggota keluargaku yang belum terungkap. Ibuku tidak pernah cerita. Aku juga nggak berani untuk bertanya pada Ibuku sekarang.

“Maksudnya apa sih? Apa ini ada hubungannya?”

Ibu keluar dari kamar. Tanpa sengaja ada satu halaman ku robek dan ku simpan dalam kantong celana.

“Bayu, kamu tadi liat gak ada buku note tergeletak disi….ni?” Ibu bertanya.

“Oh iya ada! Ini ini, Bu.” Jawabku tanpa basa-basi.

Lalu Ibu mengambil buku diarinya dalam keadaan bingung dan curiga.

Aku balik ke kamar. Membuka lembaran kertas yang ku robek tadi.

“12 Januari 1989

Hari ini hari yang terang nan cerah. Hari ini adalah hari yang semoga akan membawa berkah. Hari yang selalu aku tunggu-tunggu. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan dengan suamiku. Happy anniversary, Ayah. I love you so much.

Kegiatan hari ini nggak cukup banyak, kok. Kedua anakku sudah mau mulai besar dan mereka sudah bisa diajak bicara bersama-sama. Mereka adalah anak-anak yang terpenting dalam hidupku.

Semoga hari ini berkenan dihati.”

Setelah aku membaca halaman itu, aku sama sekali tidak bisa berkata-kata.

Perasaanku masih sangat kaget. “Kenapa Ibu nggak pernah cerita tentang ini daridulu?” Dalam hatiku.

Masa lalu memang tidak mungkin dapat diubah. Masa lalu adalah ketika kita pernah melakukan hal yang sudah kita alami sebelumnya namun tidak dapat terulangi lagi. Masa lalu tidak akan selalu tertinggal, karena mereka akan selalu berkenan dihati.

Selama ini memang Ibu tidak pernah cerita tentang hal-hal seperti ini. Terutama keluarga. Memang yang aku tahu selama ini keluargaku hanyalah Ibu dan Anggi. Mereka adalah bidadari-bidadariku yang tinggal setiap saat.

Advertisements