12 Desember 2012

‘Kapan aku bisa bertemu Ayah lagi? Kapan aku bisa bertemu dengannya? Aku menyesal dengan kejadian sewaktu dulu ketika aku meninggalkannya. Aku telah memutuskan keputusan yang salah besar.

Aku rindu Ayah.’ –Diari Ibu.

Akhirnya aku keluar kamar melihat Ibu sedang memasak masak favoritku.

Setelah Ibu memasak lontong cap gomeh, lagi-lagi Ibu menulis buku diarinya. Entah kenapa lama-kelamaan aku penasaran ingin melihat isinya.

‘Bu, kenapa sih nulis terus? Nggak ada kerjaan lain apa?’ Tanyaku dengan muka jutek.

‘Kamu lagi kenapa sih? Kok nanyanya begitu? Ya, Ibukan udah bilang kalo Ibu suka nulis daridulu.’

Pembicaraan kali ini di ruang makan menjadi aneh, lalu kita berdua diam sejenak.

‘Kamu gimana sama Anggi? Tadi malem tumben pulangnya cepet.’

Aku terdiam, nggak mau jawab apa-apa.

‘Bayu? Smile dong’. Balas Ibu.

Aku membalas senyum tanpa bicara. Aku lagi nggak mau bahasin soal dia.

‘Iya Bu, dia baik-baik aja.’ Jawabku dengan perkiraan.

Percakapan kami semakin hening. Lalu Ibu memutuskan untuk balik ke kamar. Sayangnya, ia lupa untuk membawa buku diarinya.

Secara diam-diam, aku membuka dari halaman paling pertama, perlahan-lahan, hingga akhir. Bacaannya tidak ku baca semua. Hanya beberapa yang aku melihat sangat menarik perhatian, dan…..

Aku menemukan foto keluarga Ibu dengan kedua anaknya. Dan suaminya.

‘Siapa kedua orang ini?’ Tanyaku dalam hati.

Aku mencoba untuk membuka halaman pertama. Hari pertama Ibu menulis adalah pada tahun 1989.

Beliau mengaku bahwa menulis diari adalah salah satu inspirasi dari Ibunya juga. Ternyata menulis diari itu sudah turun temurun.

Lalu aku membuka halaman selanjutnya. Aku nggak membuka halaman secara detail, tapi tanpa sengaja aku menemukan sebuah halaman yang menarik perhatianku.

‘Loh ini? Apa ini? Kok ada disini?’

Advertisements