5 Januari 2012

‘Setelah beberapa tahun sudah kutunggu, akhirnya datang juga. Nggak sia-sia datang dari jauh. Aku datang dari perantauan. Meskipun aku kangen dengan apa yang ada di kota Kudus, tapi Jakarta pasti bisa membantuku untuk hidup. Hari ini adalah hari pertama aku akan bekerja di sebuah hotel. Hotel bintang lima. Posisiku saat ini adalah menjadi koki dan customer service. Awalnya aku bingung apa itu customer service? Nggak ngerti aku sama bahasa inggris! Tapi pasti pekerjaan ini akan aku sukai, akan aku nikmati, walaupun aku harus meninggalkan ojek antar jemput setiap hari. Selamat tinggal ojek.’

Dua halaman diari kutulis dengan cepat. Tak lama itu aku pergi ke kantor. Aku masih tinggal di rumah yang sama, hanya saya aku masih meminjam motor dari si Abang.

‘Selamat pagi Ama, selamat bekerja ya.’ Kata seorang perempuan bekerja di frontdesk.

‘Selamat pagi juga, terima kasih. Anda juga.’ Balasku.

Baru masuk saja udah disapa. Ramah sekali orang-orang disini.

‘Halo Bang Ama, selamat datang! Akhirnya datang juga kamu!’ Kata Nathan.

‘Iya Bang, ini semua berkat Bang Nat, kalo Ama nggak kenal Bang Nat pasti nggak akan kayak begini ceritanya.’

‘Yaudah sekarang langsung ke ruangan training dulu gih, udah ditungguin.’ Kata Bang Nat.

‘Oke Bang, meluncurrr!’

Melihat dari isi gedungnya sungguh megah sekali. Gedung hotel ini ada 35 tingkat. Wow. Saya terpana.

Semua orang didalam hotel sungguh professional, mereka semua memakai jas dan berseragam rapi.

Selagi training, aku diajari bagaimana cara memasak dengan professional. Ternyata memasak sendiripun ada tekniknya juga. Begitu juga customer service, bagaimana cara menyapa customer dengan ramah, dan sebagainya.

Seusai training, aku keluar dari ruangan. Semua orang ada yang langsung pulang, ada yang langsung kembali bekerja, ada juga yang menunggu diluar ruangan entah mau kemana. Aku memutuskan untuk memakai seragam sebagai customer service. Hari ini kebagiannya jadi itu, besok aku jadi koki.

‘Bayu, kamu kok pake seragam? Tumben?’

Ada seorang perempuan menyapaku dari jauh, tapi aku lari dan tidak menatapi wajahnya.

‘Kenapa perempuan ngeliat mukaku terus manggil nama lain ya? Emang dia kenal sama aku!?’

Advertisements