Sudah belasan tahun aku menunggu kesempatan cemerlang itu. Tapi entah kesempatan cemerlang itu akan seperti apa. Mulai kapan aku akan mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa berpenghasilan lebih besar? Aku nggak bisa ngojekin tiap hari terus! Aku harus berbuat sesuatu!

Darisitu aku membuat sebuah gol yang dimana akan aku letakkan dipikiranku bahwa tahun ini aku harus mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada hari ini. Aku yakin suatu saat penghasilanku akan bisa lebih dari kecukupan daripada hari ini. Masa depanku akan lebih cerah daripada hari ini. Aku yakin dengan semua itu. Pasti akan terjadi!

Setiap hari aku mengojek pagi hingga malam. Entah siapapun orang yang ikut serta duduk dibelakangku, permintaan mereka pasti aku tepati – menurunkan mereka pada tujuannya. Setiap haripun juga selalu banyak pelanggan. Salah satunya adalah karyawan yang bekerja disebuah hotel yang sangat terkenal. Pemilik hotelnya saja kaya banget. Andai aku bisa mempunyai hotel sebesar itu.

‘Bang Ama, anter ke kantor lagi bang. Seperti biasa dah.’ Suara familiar yang sudah terbiasa kudengar ditelinga berbicara kepadaku. Beliau bernama Nathan. Biasanya aku panggil dia Bang Nat.

‘Iya Bang Nat, pasti sampai dengan selamat!’ Balasku dengan ucapan positif. Pikiran positif itu memang selalu enak dihati.

Setiap pagi Bang Nat memang selalu berlangganan untuk antar jemput denganku. Dimalam haripun dia juga selalu menelpon sehabis bekerja.

Aku sudah kenal dekat dengan Bang Nat sudah belasan tahun. Lebih tepatnya ketika aku baru mulai mengojek, beliau melihatku dari jauh dan aku sudah tau dia pasti meminta diantar ke kantornya. Setiap pagi Bang Nat selalu bercerita tentang kisah hidupnya. Beliau tidak pernah berhenti untuk mengisahkan cerita-ceritanya tersebut. Akupun yang biasanya tidak begitu tertarik mendengar cerita orang, kali ini aku sangat kagum dan ingin tahu lebih lanjut tentang cerita beliau. Bang Nat orangnya asik banget buat diajak obrol!

Selama diperjalanan, Bang Nat tiba-tiba bertanya diluar jangkauanku…

‘Jadi kamu selama ini pekerjaannya apa selain ngojek Bang?’ Tanya Bang Nat.

‘Ya ngojek aja Bang. Mau ngapain lagi? Haha.’ Balasku dengan pupus akan harapan.

‘Oh nggak apa-apa. Aku ngeliat kamu kayaknya kasian banget. Selama ini aku baru merasa nyaman sama tukang ojek. Belum pernah kayaknya tukang ojek seramah dan sejujur Abang Ama. Beneran deh.’

‘Bisa aja si Bang Nat. Nggaklah Bang, saya mah biasa saja. Manusia biasa juga bisa bohong kok haha.’ Jawabku dengan sambil bercanda.

‘Oh iya, kamu tertarik nggak buat kerja di tempatku? Lumayan buat biaya hidup! Nanti aku promosiin.’

‘Wah Bang. Saya belum layak tampaknya untuk bekerja di kelas atas seperti itu. Kayaknya saya harus memulai dari bawah dulu.’

‘Justru ini kesempatannya Bang! Kamu harus coba. Nanti aku atur kamu pake baju apa, aku bakal akalin deh pokoknya. Kita kekurangan karyawan buat koki dan customer service. Tapi terserah kamu nanti mau milih yang mana.’

Wah, kesempatan apa ini tiba-tiba datang tanpa diundang? Hmm, diundang sih tapi aneh aja rasanya. Tapi campur seneng juga!

‘Kamu pasti akan enjoy kerja disana. Selain nambah koneksi, kamu juga bisa belajar masak secara professional.’

Dari pembicaraan aku dan Bang Nat, aku merasa lebih PD untuk bekerja di tempatnya. Apapun itu, tapi untuk bekerja disebuah kantor, rasanya lebih nyaman dan tentram. Apa lebih baik aku coba saja ya? Kalo nggak cocok, aku bisa kembali lagi untuk ngojek.

‘Boleh deh aku coba. Kapan aku bisa mulai, Bang Nat?’

Advertisements