“Jo, beberapa minggu lalu kita sempat diskusi tentang recruitment kan? Kamu udah sempat bertemu dengan calon-calonnya belum?” Tanyaku pada salah satu anak buahku, Jonathan.

“Oh iya, Pak. Saya kemarin bertemu enam calon. Tiga dari mereka menginginkan posisi sebagai koki. Nah, sebenarnya hal ini saya ingin sampaikan ke Bapak tentang bagaimana baiknya. Mungkin Pak Bayu sebaiknya bisa bertemu mereka langsung agar bisa tahu apakah mereka sangat menginginkan posisi ini. Bagaimana Pak?” Balasnya.

“Hmm.. Boleh saja. Tapi waktu saya tidak bisa lama-lama. Saya harus bertemu dengan lima pelanggan baru yang akan menginap selama seminggu. Jadi kamu atur schedule-nya saja soal jam dan tanggalnya.” Kataku lagi.

Pembicaraan itu berlangsung sebentar dan kita berdua memutuskan untuk bertemu dengan karyawan baru esok hari.

Tiba-tiba Ibuku menghampiri hotel dan membawa rantang. Sepertinya sih Ibu membawa makan siang untukku. Tapi kok jam segini tumben banget Ibu kesini?

“Bayu, Ibu bawain kamu nasi rantang. Kamu udah makan belum?” Tanya Ibu sambil membawa rantang.

“Wah, Bu. Tumben kesini. Iya Bu gak apa-apa aku belum begitu laper.” Balasku.

Waktu itu perasaanku campur aduk. Sambil mengurusi recruitment, tiba-tiba Ibu menghampiri tanpa memberitahu sebelumnya.

“Maaf Bu, tapi aku lagi kerja. Ibu taruh rantangnya di meja kerja aku aja Bu.” Kataku sambil berlari untuk menghampiri pelanggan yang baru dating ke hotel.

Tanpa banyak kata, Ibuku langsung menaruh rantang ke meja kerjaku. Pada saat itu di ruang rapat sedang tidak ada orang. Dan Ibuku duduk di meja kerjaku sambil melihat-lihat suasana ruang rapat itu.

Pintu ruang rapat tersebut juga tidak terkunci. Anehnya, Ibu tidak langsung keluar dari ruangan dan mengeluarkan buku diarinya. Setelah itu beliau menulis tentang kegiatan pada hari itu.

Pada saat itu aku sedang mengurusi penerimaan karyawan-karyawan baru yang akan masuk ke hotelku dengan rekan kerjaku, Jonathan. Disaat waktu yang bersamaan juga, aku dan dia sedang berada diluar ruang rapat. Sekitar 15 orang menghampiri ke hotelku untuk melamar kerja. Sungguh, perasaanku sudah tidak bisa dipertanyakan lagi. Aku sangat bangga dengan semangatnya calon-calon ini!

Dari sekian lima belas calon employee di hotel ini, aku dan Jonathan hanya memilih 6 orang. Diantaranya Suzanna, Ari, Lia, Lukman, Zumi, dan….satu lagi aku lupa namanya. Mereka aku hire sebagai koki, customer service, dan pelayan hotel. Semoga pekerjaan-pekerjaan ini menjadi cocok untuk mereka.

Tanpa rasa khawatir, aku langsung memberikan tugas pada mereka masing-masing setelah interview. Lama-lama pekerjaanku makin exciting! Semakin seru! Aku semakin menikmati apa yang aku kerjakan. Hotel 8 lantai ini sangat membantuku untuk menafkahkan keluarga juga. Selain untukku, yang terpenting adalah untuk ibuku yang sudah tinggal dirumah tanpa bapak.

“Jo, tadi yang kamu hire namanya siapa? Muka dia menarik juga.” Tanyaku sambil menggaruk kepala. “Oh, namanya bang Aga. Sebenarnya aku udah langganan ojek sama dia 5 tahunan. Mungkin selama ini aku gak pernah cerita. Dia orangnya enak diajak ngobrol banget loh, Yu. Dijamin deh, pasti dia kerja disini semakin bagus!” Balasnya dengan penuh confident. “Oke deh aku percaya sama kamu, mas Jo! Kita liat progressnya ya dalam 1 bulan.”

New faces. Ya, setelah beberapa karyawan meninggalkan hotel ini dan, mungkin, menemukan pekerjaan baru, akhirnya aku melihat muka-muka baru lagi untuk ke sekian kalinya. Semoga saja mereka bisa diandalkan untuk bekerja di hotel ini.

Setelah aku bertemu karyawan-karyawan yang baru di-interview, aku menghampiri meja kerjaku. Ternyata Ibuku masih menulis diarinya dan terlihat sangat serius. Awalnya aku ingin menanyakan tentang apa yang beliau tulis. Tapi gak deh, nanti beliau merasa terganggu. Tapi…aku berfikir untuk menanyakan hal yang lain kepada beliau.

“Ibu udah selesai makannya? Lagi ngapain, Bu?” Tanyaku sambil buka pintu.

“Iya nak, Ibu lagi nulis keperluan buat belanja di pasar nanti. Kamu butuh apa sayang?” Tanya Ibuku balik.

“Nggak, Bu sudah. Nanti saja. Kalau Ibu mau istirahat ada ruang tidur disebelah ya Bu atau gak istirahat di rumah aja kalau Ibu capek J.” Balasku dengan senyum.

Nyatanya Ibu memang lagi sibuk menulis buku diarinya itu. Selama ini memang aku gak pernah menanyakan apa yang beliau tulis. Mungkin suatu saat selagi ada kesempatan, aku bisa membaca diarinya tanpa sepengetahuan beliau. Tapi tunggu…Jangan deh. Ah, jadi ragu nanti dimarahin!

Setelah aku keluar dari ruangan kerjaku, aku kembali ke Jonathan sambil berharap panjang lebar kepadanya. “Jo, doain ya semoga karyawan-karyawan yang baru ini cocok sama kita. Belum lama nih hotel aku bangun. Baru 5 tahun!”

“Tenang aja, si bang Aga dan kerabat-kerabatnya bisa ngandalin kok! Pokoknya kita liat aja nanti, aku yakin banget dengan progressnya hotel ini akan semakin membaik! Toh selama ini pelanggan sering datang juga kan. Ya, seenggaknya buat makan siang atau malam saja karena menu-menu makanan kita juga fancy!”

Dengan penuh keyakinan, aku percaya dengan apa kata Jonathan. Melihat satu bulan kedepan itu memang butuh waktu yang sebentar tapi terasa lama. Namun, aku percaya dengan hal-hal positif yang akan dibangun oleh karyawan-karyawan yang baru aku hire hari ini. Semangat baru, baru saja dimulai!

Advertisements