Demikian apa yang pernah dilakukan oleh Anne Frank dengan judul bukunya “The Diary of a Young Girl”. Ketika aku mengingat kembali tentang beliau, aku menyamakan hal dengan Ibuku yang tidak bisa berhenti menulis buku diarinya setiap hari. Aku sedang duduk di ruang tamu sambil menonton TV. Sedangkan Ibu sedang menulis diarinya sambil membaca halaman-halaman sebelumnya. Sepertinya Ibu sedang bernostalgia.

10 Juni, 2012

“Hari ini ada yang membuat aku bangga. Setelah bertahun-tahun akhirnya impian anakku tercapai juga. Semoga hotel yang sudah ia bangun akan selalu tentram dan makmur.

Akan tetapi, aku masih saja teringat tentang masa lalu dengan Andi. Aku menyesal sekarang hidup tanpa dia dan aku udah gak tahu dia dimana sekarang. Semenjak dia pergi, aku jadi kembali berpikir tentang kata-kata apa yang sudah aku keluarkan kepadanya. Aku memang salah. Aku memang bodoh. Gak seharusnya aku berlaku kepadanya seperti itu.

Aku juga rindu dengan anakku. Andi yang membawanya pergi. Aku ingin melihat mereka lagi. Aku rindu dengan mereka.”

Setelah Ibu menulis buku diarinya, aku menanyakan sebuah pertanyaan.

“Bu, sebenarnya apa pentingnya sih menulis? Kalo menurut analisaku, menulis itu menunjukkan kegalauan. Seperti hal ketika aku sedang sedih, dan aku menulis tentang perasaan yang aku rasa. Tapi setelah itu, aku membuang tulisan itu karena aku gak mau mengingat-ingat lagi.”

“Kamu pernah dengar menulis bebas? Nah, dari dua kata ini kamu bisa simpulkan bahwa menulis bebas bisa menulis apa saja yang kamu mau. Dari menulis diari, Koran, majalah, cerpen, dan yang lainnya. Hanya satu yang kamu perlukan yaitu kreatifitas. Kamu harus kreatif dalam mengimajinasi tentang apa yang kamu pikirkan. Kemudian kamu tuangkan itu kedalam sebuah tulisan. Dan tulisan tersebut akan kamu rangkai sebaik mungkin sehingga ketika kamu membaca, kamu memahami apa yang kamu tulis.” Balas Ibuku dengan passionate-nya itu.

Percakapan aku dan Ibu tidak berlangsung lama. Karena sudah terlarut malam, aku balik ke kamar dan istirahat.

Anggi pun SMS. “Sayang, maaf ya belakangan ini aku lagi susah banget buat dihubungin. Tapi aku kangen banget sama kamu! Besok ketemuan yuk di tempat biasa.”

Baru saja aku menutupkan kedua bola mataku dan tiba-tiba pacarku memberi kabar. Perasaanku langsung campur aduk antara senang, sedih, kangen. Ah, pokoknya campur aduk deh!

Keesokan harinya aku berangkat kerja pagi. Namun, Ibuku menelpon ketika aku masih dijalan.

“Nak, kamu lupa membawa bekal dirumah. Mau Ibu antar?”

“Nggak kok Bu bekalnya ada di tasku.”

“Masa sih? Ini bekal kamu masih di meja makan kok.”

Selagi aku berhenti di lampu merah, aku mengecek barang-barang yang ada di tasku. Dan…

“Aduh, kenapa aku bawa buku doang? Buku siapa nih?”

Aku melihat dari cover buku depan dan belakang.

“Wah, ini kan buku diarinya Ibu! Kok bisa ada di tasku!?”

Aku langsung panik. Aku yakin akan dimarahi Ibu ketika aku tiba dirumah nanti malam. “Aku gak akan baca buku ini. Aku tahu ini privacy beliau. Aku takut beliau marah.”

Tanpa disadari, Ibu tidak tahu bahwa beliau menulis buku diari di meja makan di pagi hari dan tempat bekal tersebut mempunyai warna yang sama – coklat. Tanpa disadari juga, Bayu sedang terburu-buru untuk berangkat kerja, dan tidak memerhatikan barang yang diambilnya di meja makan.

Advertisements