Setibanya aku di Jakarta, perasaanku tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ketika aku melihat Tugu Monas, hatiku langsung berdebar-debar sambil meneriakkan namaku. “AMANG TIBA DI JAKARTAAAA!”

Tak lupa aku menulis moment yang amat sangat penting ini. Hari ini, detik ini, aku tiba di Jakarta dengan bangga! Walau sendirian, suatu saat nanti aku akan memperlihatkan betapa indahnya kota Jakarta ini kepada Ayah. Beliau pasti bangga ketika aku sudah sukses disini.

15 Juli, 1998

“Akhirnya aku tiba di Jakarta. Kota metropolitan. Kota yang penuh dengan berbagai suasana. Orang-orang yang ramah tamah kepada satu sama lain. Akhirnya impianku tercapai juga. Menggapai sesuatu yang tidak mungkin itu ternyata bisa terwujud! Tuhan memang adil. Tapi pertanyaannya sekarang, pekerjaan apa yang membuatku bisa sukses? Jadi pengusaha? Dokter? Pemilik restoran? Atau pemilik hotel? Ah semuanya terdengar terlalu tinggi!

Andai saja aku bisa sekolah lagi. Aku bisa telusuri bidang yang selama ini aku sukai. Selama ini aku ingin menjadi pemilik hotel. Hotel bintang lima. Kalo perlu bintang sepuluh deh. Aku yakin dari pekerjaan itu aku akan menghasilkan uang yang sangat banyak! Setelah itu, aku bisa membawa ayah kesini! Ah, mungkin impianku terlalu tinggi.”

Sepanjang jalan dari turun bus, aku melihat supir ojek sedang menikmati rokok yang dihisapnya. Tiba-tiba aku terdiam sambil melihat dia merokok dengan gaya duduknya diatas motor. Aku melihat setiap rokok yang dihisap itu menghasilkan asap yang unik, dan berbeda dengan asap gas tentunya. Melihat gayanya, mataku langsung terpana dan mengucapkan dalam hati, “Apa sebaiknya aku memulai karir dari supir ojek saja ya? Motor banyak yang nganggur dan ngisap rokok sepertinya juga terlihat keren!”.

Karena aku mengikuti apa kata naluriku, aku langsung menyapa supir ojek tersebut. “Bang, lagi ngojek bang hari ini?” Tanyaku. “Iye, mau naik dek? Sini abang anter. Kemane aje terserah dah!” Balasnya dengan logad betawi itu.

“Hmm, sebenernya sih aku pengen jadi supir ojek bang. Tapi aku masih belum punya sim. Tapi…aku bisa setir motor kok!” Kataku dengan penuh keyakinan.

“Wah, sebaiknya adek daftar sim C dulu deh baru bisa ngojek. Tapi kalo mau bandel-bandel sih ya gak ape-ape asal adek musti ada waktu buat daftar ye!”

“Iye, tenang aje bang. Beres deh kalo itu! Tapi aku baru aja sampai di Jakarta nih dan belum tau jalan. Jadi kalo abang ajak aku keliling Jakarta buat ngapalin jalan bisa gak bang?” Balasku dengan mengikuti logad betawi pula.

“Hahaha…si adek ini lucu sekali. Jakarta itu besar lho gak kayak kota-kota kecil yang lain! Kamu gak bisa jadi supir ojek kalo kamu gak tau jalan!” Balasnya tertawa.

Aku pun juga ikut tertawa dan berpikir ternyata benar apa yang si abang ini pikirkan. Setelah bersenda gurau dengannya selama 5 jam, aku memintanya sekali lagi untuk keliling Jakarta. Dan jawabannya….

“Boleh, asal kamu traktir abang ye! Haha bercanda…” Katanya sambil tertawa lagi.

Alhamdulillah, baru hari pertama aku sudah menikmati percakapan dengan seseorang yang amat enak untuk diajak berbicara. Ini sebuah sejarah yang pasti akan ku tulis di diariku nanti malam!

Setelah seharian berkeliling, aku mengakui bahwa Jakarta memang sangat dan sangat luas nan pula kaya. Dengan suasana yang ramai, kendaraan yang tertib, dan orang-orang yang ramah tamah membuatku menjadi semakin nyaman untuk tinggal disini. Bisa-bisa aku tak akan kembali ke tanah asalku, Kudus. Tak apalah, tujuanku ke Jakarta memang niatnya untuk diriku sendiri. Aku ingin tahu bagaimana rasanya bekerja untuk mendapatkan banyak uang. Aku ingin tahu bagaimana rasanya tinggal di kota. Maafkan aku Yah, ongkos ke Jakarta aku pakai tanpa seizin Ayah. Suatu saat nanti akan aku kembalikan semuanya.

Advertisements