Siang ini aku akan naik bus kota ke Jakarta. Pada saat itu aku harus ke kota Rembang untuk mendapatkan bus tersebut. Perjalanan yang panjang. Membawa uang saku yang tak seberapa, semoga cukup ketika sesampainya aku di Jakarta.

Sebenarnya Ayahku tidak setuju dengan kepergianku ini. Malam sebelum kepergianku ke Jakarta, aku langsung pergi dari rumah tanpa sepengetahuan Ayah. “Maafkan aku, Yah. Aku pergi jauh karena untuk keburuntungan kita juga.” Kataku dibawah tikar di pinggir jalan. Ya, pada saat itu aku sudah tidak tinggal dirumah lagi. Dilain kata, aku sedang berteduh dibawah pohon sambil menyelimuti diri dengan tikar. Aneh, kenapa bukan selimut ya?

12 Juli, 2008

“Hujan deras. Deras sekali. Tapi aku harus tetap semangat! Aku bangga pada akhirnya aku bisa lulus SMA. Ini semua karena kerja kerasnya Ayah yang telah membiayaiku hingga lulus. Tapi aku harus berminta maaf juga pada beliau karena saat ini aku tidak memberitahukan apapun tentang kepergianku. Maafkan aku, Yah. Suatu saat nanti aku akan kembali kesini dan membawa berkah.”

Catatan pendek yang kutulis di diariku hari ini. Setelah itu aku membaca halaman-halaman sebelumnya. Sayangnya momen-momen yang ku tulis itu tidak mempunyai foto. Maklum, kamera saja tidak punya.

“Amang, Amang. Nasibmu memang harus tinggal di desa terpencil dulu baru bisa menjadi orang besar. Semoga saja perkataan itu akan menjadi doa.” Kataku saat berbicara sendiri sambil melamun.

Sebenarnya, kenapa ya aku selalu menulis segalanya di buku diari? Melihat masa lalu, iya. Sekarang juga. Tapi apa gunanya untuk kedepan? Melihat masa lalu lagi? Ah bosan dengan masa lalu terus! Tapi memang ini sudah menjadi kebiasaan sih. Sayangnya Ayah gak pernah nulis. Aku selalu menang juara menulis di sekolah sampai teman-teman pada iri. Amang, Amang….lebih baik mencari pisang saja dan berpacaran dengan monyet di pohon…daripada harus menerima kenyataan yang menyakitkan seperti sekarang ini.

Buku diari itu akan ku selalu bawa kemana-mana. Semua momen yang terjadi akan kutumpahkan disini. Ya, hanya disini. Takkan pernah ku curahkan apapun ke orang lain. Ayahku saja gak pernah tau kalau aku selama ini menulis diari. Aku memang mempunyai kepribadian yang berbeda dan tidak seperti laki-laki lain yang biasanya lebih suka bermain bola di lapangan. Aku lebih suka untuk berdiam diri sambil merenung apa yang telah terjadi hari ini dan apa yang telah ku perbuat masa lalu hingga aku bisa menjadi hari ini…lewat buku diari. Simple.

Setibanya aku di Jakarta, perasaanku tidak bisa dipertanyakan lagi. Sangat senang dan bangga! “Akhirnya bisa ke Jakarta juga! Sebuah perjalanan yang gak sia-sia…” Kataku sambil lompat-lompat.

Advertisements