“Jadi bagaimana nih keputusan dari kita semua? Menurut kamu bagaimana Jo? Apakah job recruitment harus di undur saja?” Tanyaku ke salah satu karyawan yang bernama Jonathan. Selama ini dia bekerja sebagai Human Resources untuk penerimaan karyawan hotelku.

“Menurut saya lebih baik job recruitment-nya diundurkan saja, Pak Bayu. Saat ini hotel kita tidak kekurangan karyawan, tapi enam bulan kedepan rata-rata dari mereka akan quit.” Balasnya.

“Kamu tahu darimana? Saya sedang berfikir untuk menambahkan karyawan di bagian restoran. Saat ini menurut saya, kita akan kekurangan pelayan dan koki dalam 6 bulan kedepan. Dan juga cleaning service, sekarang saya lihat beberapa customer kita pada kecewa karena karyawan cleaning service-nya sering tidak memberikan layanan yang berkualitas kepada pelanggan. Menurut kamu bagaimana?” Tanyaku.

“Wah kalau cleaning service-nya sih memang kita sangat butuh sekali, Pak. Mungkin kita akan rekrut karyawan-karyawan baru dengan waktu yang bersamaan saja kali Pak….beserta koki dan pelayan di restoran juga.” Balas Jonathan dengan opininya.

Ide yang bagus. Mungkin saya akan rekrut orang-orang baru 9 bulan dari sekarang. Kenapa sih susah banget cari orang-orang yang berkualitas di Jakarta? Belum lagi diantara mereka akan mengundurkan diri darisini.

Jam 10 malam…

“Assalamualaikum….” Salamku kepada Ibu.

Namun, aku tidak mendengar suara dari beliau. “Mana nih Ibu? Kok gak ada suaranya?”

Lalu aku masuk ke kamarnya dan melihat Ibu sedang menangis. Beliau menangis sambil memegang buku diari tebalnya itu. Ketika aku melihat beliau mengeluarkan air mata, aku langsung memeluknya dengan erat dan bilang, “Aku sayang sama Ibu. Ibu mau aku mainkan lagu gak sebelum tidur supaya Ibu tenang?”

Ibu masih menangis sambil mengucurkan air mata.

“Bu, cerita ke Bayu dong. Ada apa sih sebenarnya?”

Beberapa menit kemudian, Ibu mengucapkan sedikit kata-kata. “Ga ada apa-apa, Nak.” Tak lama itu, Ibu bercerita tentang buku diarinya yang selama ini beliau tulis.

“Kamu tahu kenapa alasannya Ibu setiap malam menulis buku diari ini?” Tanyanya sambil menggeggam diari tebalnya itu.

“Ada apa, Bu? Daridulu sebenarnya aku penasaran tapi sampai hari ini aku belum pernah berani untuk bertanya pada Ibu tentang itu. Tapi kalo boleh, memangnya selama ini Ibu menulis apa sih?”

“Menulis diari sudah salah satu kebiasaan Ibu dari kecil. Ibu gak tau kalo kebiasaan ini bisa turun-temurun ke kamu, tapi kayaknya gak. Selama ini Ibu suka nulis apa yang terjadi setiap hari. Ibu bosan setiap hari harus menonton TV yang acara-acaranya pada gak jelas. Dengerin radio juga, kabar-kabarnya suka gak bener. Ibu cuma berharap aja kalo kamu bisa meneruskan kebiasaan Ibu. Tujuannya supaya ketika kamu buka lembaran masa lalu, kamu teringat lagi apa yang terjadi waktu itu. Seperti ibaratnya kamu bernostalgia. Masa lalu itu gak akan pernah bisa kembali lagi tapi akan selalu dikenang di hati kita.” Jawab Ibuku dari pengalamannya itu.

“Kadang Ibu suka berfikir, kapan Ibu bisa berhenti menulis diari dan melepaskan kebiasaan ini? Setiap Ibu membuka diarinya, Ibu selalu teringat dengan masa lalu Ibu. Tapi Ibu beruntung banget punya kamu….lulus SMA, kuliah, terus bangun usaha hotel lagi. Kamu memang satu-satunya yang bikin Ibu bangga, Bayu. Ibu bangga banget punya anak kayak kamu.”

Mendengar Ibu berkata seperti itu, perasaanku langsung nyaman. Aku sangat beruntung mempunyai Ibu yang sangat menyayangi anaknya dengan sepenuh hati. Tapi hubungannya dengan diari Ibu tadi maksudnya apa ya? Masih gak ngerti deh.

Tapi…aku memang gak pernah punya niat juga untuk menulis diari setiap hari. Setiap malam sehabis aku pulang dari kantor, pasti aku langsung tidur tanpa basa-basi. Kalo jaman sekarang orang-orang sering bilangnya gak pake ngaret.

Setelah aku mendengar cerita-cerita lebih jauh tentang diari Ibu, aku makin mengerti. Ternyata menulis diari itu banyak artinya. Dari bernostalgia sampai curhat lewat buku. Apapun ceritanya yang terjadi saat itu, semuanya ditumpahkan ke buku itu. Sebentar, jaman sekarang kan udah maju. Orang-orang udah punya Blog. Tujuannya juga sama seperti menulis diari di lembaran-lembaran kertas. Tapi perbedaannya cuma satu. Menulis kejadian setiap hari di Blog itu sifatnya publik. Semua orang akan membaca peristiwa kita. Blog private memangnya ada? Perasaan gak pernah dengar.

“Kalo menulis diari di buku itu jauh lebih bermakna daripada kamu menulis di Blog. Ibu tahu sekarang jamannya sudah sangat maju. Semua orang punya Facebook, Twitter, atau semacam itu. Tapi kalo sudah berhubungan dengan menulis kejadian pribadi, lebih baik kita curahkan saja kedalam buku diari. Toh juga gak ada yang mau lihat kan? Bisa disimpan ke dalam lemari terkunci lagi. Ibu selalu berharap bahwa diari Ibu takkan pernah lepas dari tangan Ibu. Takkan pernah. Karena semua momen yang telah terjadi sudah kuungkapkan disana dan itu sudah menjadi rahasia Ibu.”

 

Advertisements