Ada pepatah pernah bilang bahwa kita sebagai manusia biasa akan lebih baik untuk meraih ilmu setinggi-tingginya sampai negeri Cina. Ya, memang benar. Tapi saat ini aku hanya bisa menikmati hasil jerih payahku saja. S1 aku sudah lulus, tapi Ibuku memberikan saran untuk mengambil S2 selagi aku bekerja sekarang. Tapi…. Lihatlah keadaan keuanganku saat ini. Sangat cukup untuk membiayai apapun yang aku mau, dan untuk Ibu juga. Lalu, buat apa aku sekolah? Aku bisa berdiri sendiri tapi pendidikan yang tinggi asal aku tekun dan niat kepada apa yang aku kerjakan. Ya, aku percaya dengan miracle.

Ketika aku sedang berada di tempat kerja, pacarku SMS. Dia bilang, “Malam ini kita ke Louis Café, yuk. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan. Kabarin aku yah kalau kamu bisa. Love u”. Saat aku menerima SMSnya, tiba-tiba aku mempunyai firasat buruk. Entah itu apa. Tapi lihat nanti sajalah. Siapa tahu si putriku yang cantik ini akan memberikan kabar terbaik.

“Wah udah jam 9 malem nih. Gue musti cabut dari kantor dan musti ketemuan sama cewek gue.” Kataku sambil melihat jam tangan. Aku langsung meluncur ke Café tanpa hambatan dan menemui pacarku disana.

“Surprise! Hehehe. Sayang, aku lulus skripsi loh! Seneng banget nih!” Kata pacarku dengan excited feeling-nya. Firasatku berarti sangat salah. Malah justru kebalikannya. Dia punya kabar baik untukku.

“Wah selamat ya sayang! Oh ya, ngomong-ngomong kamu kesini sama siapa? Kok gak nanya sama aku buat jemput kamu di kampus?” Balasku.

“Gak papa sayang. Aku tadi naik taksi. Aku gak mau ganggu jadwal kamu terus musti jemput aku malem-malem. Tapi nanti habis ini anterin aku pulang ya! Hehehe.” Katanya sambil cekikikan.

“Pasti dong. Wah aku seneng banget kamu akhirnya bisa nyelesein kuliah kamu. Sebentar lagi langsung pake gaun yah. Lulusan S1 nih! Wah berat! Haha.” Kataku sambil tertawa.

Dan dari dalam hatiku juga sambil berkata bahwa setelah pacarku lulus, aku bisa punya kesempatan untuk menanyakan tentang menikah dengannya. Ah, tapi nanti sajalah. Aku tidak mau buru-buru dengan itu.

“Sayang, kamu setuju gak kalo aku ambil S2 sekalian kerja di hotel? Menurut kamu melakukan dua pekerjaan itu berat gak sih?” Tanyaku sambil meminta sugesti.

“Hmm… Wah kamu yakin mau ambil S2 sambil kerja? Usaha hotelnya kan punya kamu. Bakalan berat sih kalo kamu ngelakuin dua-duanya. Serius deh. Kalo kamu sekolah, mendingan fokus sekolah dulu. Tapi semenjak kamu udah buka usaha sendiri dan sukses kayak sekarang ini. Kayaknya udah worth it kalo kamu musti kerja.” Balasnya dengan opini.

“Iya nih, ini saran dari Ibu. Tapi kalo aku mengingkar janjinya, nanti beliau kecewa sama aku. Selama ini aku gak pernah ngecewain dia. Maka dari itu kalo pilihan yang ini aku agak mikir dua kali.”

Ah sudahlah, lebih baik aku mempertahankan usahaku saja. Buat apa aku mengeluarkan uang yang besar untuk menghabiskan waktu di kelas bersama dosen? Lebih aku menghabiskan hasil jerih payahku ini untuk pergi keliling dunia bersama keluarga.

Sepulangnya aku ke rumah, Ibuku sedang tertidur di sofa. Lalu aku membangunkannya perlahan-lahan…

“Bu, tidur di kamar aja yuk. Nanti masuk angin lho kalo tidur diluar.” Kataku sambil bisik-bisik.

Lalu Ibuku terbangun dan mengucekan matanya. “Jam berapa nih sekarang?” Tanyanya sambil memegang buku diarinya.

Aku masih heran mengapa Ibuku selalu menggegam buku diari itu dari pagi hingga malam. Tak pernah bosan-bosannya beliau menulis. Kadang aku penasaran apa yang beliau sudah tuliskan. Tapi jangan deh, itu kan privasi orang. Mungkin salah satu suasana yang membuat Ibuku bisa berdiri sendiri juga karena buku diarinya. Mungkin saja. Aku hanya bisa berharap bahwa suatu saat nanti Ibuku bisa menceritakan isi diarinya itu, tapi tidak dengan membaca isinya.

Advertisements