11 Mei, 2008

“Waktu lulusanku semakin dekat. Sebentar lagi aku akan bebas dari masa-masa sekolahku di SMA. Biasanya setelah jenjang ini orang-orang akan menduduki bangku kuliah. Tapi sangat tidak untukku pribadi. Aku akan meneruskan tekadku untuk tetap ke Jakarta dan mencari pekerjaan yang sangat terbaik disana. Apapun itu resiko dan kesempatannya akan aku ambil! Meskipun saat ini hanya Bus kota atau kereta yang bisa aku andalkan untuk ke Jakarta, aku akan membahagiakan Ayahku suatu saat ini bahwa kepergianku ini akan membuahkan hasil. Akan membuahkan hasil. Aku yakin kesempatan ini adalah kesempatan emas.

Tapi sedihnya, aku takkan mengenakan gaun lulusan SMAku nanti. Memang tidak seperti sekolah-sekolah lain yang biasanya mengadakan acara graduation atau apalah itu namanya. Rasanya ingin juga untuk merasakan momen itu. Tapi kayaknya sudah tidak mungkin.”

Aku menutup buku diariku dan berbaring tidur di sebelah Ayahku. Lima menit kemudian Ayahku terbangun dan mengatakan sesuatu kepadaku.

“Ama, kamu jangan pergi jauh-jauh ya setelah kamu lulus. Kamu disini saja bantu Ayah untuk memetik padi di sawah.”

Aku sedang mencoba untuk tidur dengan tenang dan tiba-tiba Ayahku berbisik-bisik. “Memangnya ada apa, Yah? Kalo aku kerja diluar kota gimana?”

“Jangan deh, Ama. Bekerja di luar kota itu gak mudah, lho. Harus menyesuaikan diri lagi. Belum lagi kalo kamu kehilangan pekerjaan disana. Mau makan pakai apa kamu. Apalagi kalo kamu kerja di Ibukota Jakarta, wah bisa kacau kamu disana!” Kata Ayahku dengan pesimis.

“Yah Ayah, jangan begitu dong. Segala sesuatu itu harus dipikirkan dengan positif. Gak ada gunanya kalo kita sudah berusaha keras tapi gak pernah ada perkembangannya. Kita kan butuh kemajuan, Yah. Lihat saja kita udah tinggal di rumah ini dari aku lahir. Aku gak mau berdiam disini terus-terusan. Lagian semua orang di kampung sekitar juga pada gak suka sama aku. Mendingan aku pergi aja darisini.” Balasku dengan tegas.

Untuk sekian kalinya kuucapkan, kesempatan ini adalah kesempatan emas. Belum tentu banyak orang bisa menggapai kesempatan seperti ini. Nasib terbaikku adalah hidup di Jakarta. Ya, hanya di Jakarta!

Advertisements