Chapter 22 – “Wajah cantik”

Leave a comment

Perasaanku mulai sedih. Perasaanku mulai nggak sama seperti biasanya. Detak jantung semakin kencang. Apakah ini sebuah awalan dari jatuh cinta?

Aku ingat ketika aku bertemu dengannya di sebuah café terdekat dari hotel sini. Dia menyapaku dan menyebut nama Bayu. Aku berdansa dengannya hingga larut malam. Ku ingat malam itu penuh dengan kenangan…meskipun hanya beberapa jam saja.

Wajahnya yang cantik, hidung yang mancung, mata yang bersinar, membuatku semakin terpana dengannya. Setiap kali dia menghampiri, aku seperti seseorang yang bisa membahagiakan dirinya. Sayangnya, dan nyatanya…orangnya bukan aku.

Hingga hari itu, aku melihat dia dari jauh. Dia berpegangan tangan dengan lelaki yang kukenal. Sang lelaki itu adalah orang atasanku yang sudah berjasa dan membuat aku bekerja di hotel ini. Sekarang aku menjadi merasa bersalah.

Hari ini bukan hari yang baik untuk melihat pemandangan. Apalagi melihat perempuan itu. Sekarang aku ingin tahu siapa namanya.

Tanpa sengaja aku bertemu dia lagi di depan elevator. Dia sedang menuju keatas mengunjungi saudaranya dari luar kota yang sedang menginap di hotel ini.

“Bayu, kamu ngapain bawa-bawa barang berat gitu? Mau aku bantuin?” Tanya perempuan itu.

“Ah enggak nggak apa-apa, nggak usah.” Jawabku sambil gugup.

Kenapa masih saja manggil aku Bayu?

Kami berdua kebetulan mengambil elevator yang sama. Naik ke lantai 8.

“Mau ke lantai berapa mbak?” Tanyaku.

“Kamu nggak kayak kenal aku aja, Yang.” Balasnya.

Yang!? Sejak kapan perempuan ini manggil aku pake yang-yangan.

Sesampainya kami di lantai 8, kami menuju ke tujuan masing-masing.

Tapi ternyata kami mempunyai tujuan yang sama.

Kami menuju ke ruangan 808.

Akan tetapi tujuan kami berbeda untuk ke kamar tersebut.

Ting tong! Bel berbunyi. Perempuan itu memencet belnya.

(Pintu terbuka) “Hey, akhirnya datang juga! Udah lama nggak ketemu ya.” Kata orang yang membuka pintu sambil cipika cipiki dengan perempuan itu.

Ah, namanya siapa sih perempuan itu? Aku selalu menyebutnya dengan ‘perempuan itu’ dan aku ingin tau namanya sekarang.

“Wah, Anggi udah disini! Ayo masuk-masuk.”

Oh, ternyata namanya Anggi.

Namun, tujuanku ke kamar ini hanya mengantarkan makanan. Lain itu, aku langsung meninggalkan tempat.

Dan ternyata orang-orang yang berada di kamar tersebut adalah saudara-saudara dari Anggi. Saudara-saudaranya pun cantik-cantik. Nggak heran kalau Angginya juga cantik.

 

Advertisements

Chapter 21 – ‘Diariku telah dibaca’

Leave a comment

Aku mencoba untuk berpikir jika aku bisa menanyakan hal tentang ini. Apakah aku perlu untuk menanyakan kepada beliau sekarang?

Hatiku masih bertanya-tanya. “Apa benar aku masih ada keluarga lagi?”

Dalam sekejap, aku mencoba untuk mengabaikan pernyataan yang Ibu tulis dihalaman itu. Aku mencoba untuk melupakannya.

Keesokannya hari Minggu. Hari libur. Hari tidur. Meskipun nanti siang aku akan pergi lagi untuk cek hotel. Ibu juga akan ke pasar.

“Bayu, Ibu pergi dulu ya. Kamu hati-hati dirumah. Jangan lupa beresin rumah.” Kata Ibu sambil meninggalkan rumah.

“Siap Bu!” Jawabku dengan tegas.

Sambilku bersih-bersih rumah, aku melihat selembar kertas yang tergeletak di meja kerja Ibu. Dengan rasa kepenasaranku, aku mencoba untuk melihat kertas itu.

“Kartu keluarga?”

Disebelah kartu keluarga juga ada buku diari Ibu. Nampaknya Ibu lupa lagi untuk membawa bukunya.

Aku mencoba untuk membaca lagi halaman demi halaman. Ternyata, banyak cerita nyata yang aku nggak pernah tahu.

31 Januari 1991

‘Aku capek. Aku lelah. Lebih baik kita berpisah saja. Nggak ada cara lagi untuk kamu memuja aku. Selamat tinggal, Andy.’

Halaman selanjutnya..

1 Februari 1991

‘Aku,

Hidupku seperti roda, kadang diatas kadang dibawah

Tapi waktu tidak bisa ditawar lagi,

Ia akan berjalan terus tanpa henti

Mungkin Ia akan berhenti ketika kiamat telah datang

Disini, aku ingin bercerita tentang kehidupanku saat ini

Hidupku telah berubah dalam beberapa bulan ini

Setiap malam, setiap hari, aku menangis dengan kesendirian

Sering kali aku tidak bisa menahan betapa pahitnya musibah yang telah kuterima

Aku terjatuh, tanganku membengkak

Betapa sakitnya musbah yang kualami

Menurutku, hal yang terberat dalam hidup ini adalah “Awal dan Akhir”.

Awal, dimana ada tempat untuk menyesuaikan diri & bertemu dengan hal baru, sulit diresapi dan butuh proses yang lama. Terkadang, sebuah awalan itu adalah langkah yang terbaik untuk ditemui tapi sulit untuk dilaksanakan.

Akhir, dimana kita harus meninggalkan tempat itu dengan berat hati. Apapun akhiran kisah tersebut, pasti lebih berat karena kita sudah berkecambung dengan prosesnya.

Aku,

Telah menunggumu sejak lama

Maafkan bila aku telah membuatmu kecewa.’

Kenapa kata-kata ini sangat persis sekali dengan kata-kata yang pernah kutulis di diari!?

Lalu, aku mencoba untuk membaca halaman yang lain lagi…

1 Maret 1994,

‘Maafkan aku, Ayah. Aku nggak bermaksud untuk membuat kejadian seperti ini. Maafkan bila aku mempunyai salah-salah yang membuatmu kesal. Aku nggak pernah nyangka pada akhirnya kita seperti ini. Tolong jagain Amang. Aku sayang sama dia. Aku pengen kalian balik lagi dirumah. Seperti dulu. Aku ingin kita hidup bersama-sama lagi.’

Setelah membaca kalimat-kalimat tersebut, aku langsung berhenti membaca diari Ibu. Diarinya hampir kusobek. Saking kesalnya.

‘KENAPA DARIDULU IBU NGGAK PERNAH CERITAAA?’ Teriakku dengan kencang seolah-olah orang-orang tidak mendengar.

Chapter 20 – “Mencoba untuk mencari sebuah jawaban”

Leave a comment

7 Januari 2012

‘Belakangan ini aku merasakan beberapa hal yang membuatku bingung. Perempuan berwajah cantik itu selalu menghampiriku. Aku tidak kenal dia siapa. Belakangan ini dia selalu menghampiriku dikala aku bekerja. Bahkan dia memanggilku dengan nama berbeda. Dia selalu memanggilku dengan nama ‘Bayu’. Entah kenapa. Tapi bisa saja ini cuma prasangkaku saja. Kalau dia masih sama seperti ini, aku akan bilang sejujurnya kalau aku bukan dia.’

Bayu? Siapa itu Bayu?

Ooh! Aku ingat! Bayu itu kan bosku di hotel. Tapi…namanya bukan Pak Prakoso ya?

Tunggu…  Kemarin pas aku daftar untuk bekerja di hotel, namanya Prakoso aja kan?

Aku bertanya pada diriku sendiri lagi…

Lalu aku memeriksa kartu nama beliau di dompet.

‘Bayu Prakoso’. Ternyata nama beliau Bayu Prakoso.

Wah, masa aku dikira Pak Prakoso? Yang bener aja!?

Keesokan harinya, aku mulai memantau perempuan itu untuk menghampiriku lagi. Aku mencoba untuk bisa tidak kenal dengan dia karena dia bukan siapa-siapa.

“Bayu? Kamu tumben pagi banget hari ini udah kerja lagi.”

Tanpa kusadari akhirnya aku menoleh dan melihat wajahnya.

“Ah, iya. Lagi mau bersih-bersih dulu. Nanti siang baru ada meeting lagi.”

“Oh gitu, nih aku bawain bekel buat kamu.. Hari ini aku lagi nggak ngapa-ngapain. Boleh ya kalo aku bantuin kamu hari ini?”

Aku terdiam sejenak. “Hmm, jangan deh. Nanti bos marah la….gi.”

“Hah? Bos? Maksudnya?”

“Eh iya maksudnya nanti kan aku sibuk jadi takutnya aku ngga ada waktu buat kamu.”

Aduh, gimana sih Amang ini. Ngomong sama perempuan cantik aja kagok banget ngomongnya.

Kemudian, perempuan itu berjalan ke pintu lobby depan sambil duduk-duduk di sofa. Entah dia akan mau ngapain lagi abis ini.

3 jam kemudian…

“Wah, udah dateng aja bang. Cepet amat tumben. Dari jam berapa tadi?” Tanya Nathan.

“Iya daritadi pagi jam 6. Iya nih mas lagi tumben biasanya nggak sepagi ini.

Lalu percakapan kita mulai menjadi basa-basi hingga akhirnya Nathan membicarakan tentang acara di Ballroom.

“Oh iya by the way, minggu depan kan mau ada acara resepsi nih di Ballroom. Kamu nanti bakal multitasking ya. Bisa gak?”

“Boleh mas kalo misalnya dikasih pekerjaan, saya mau lakuin apa aja buat hotel ini saya mau mas.” Jawabku.

Dan percakapan kita dibahas dengan waktu yang cukup lama nan produktif. Saya suka bekerja keras!

Tidak lama itu, bosku datang. Beliau langsung menghampiri perempuan yang duduk di sofa itu.

Hatiku berdetak kencang. Aku mulai kesal. Mukaku mulai memerah.

“Kenapa aku jadi gelisah ya ngeliatin perempuan itu?”

Chapter 19 – “Sesuatu yang tidak bisa diubah”

Leave a comment

Dengan perlahan-lahan halamannya kubuka lagi. Ternyata, sepertinya ada anggota keluargaku yang belum terungkap. Ibuku tidak pernah cerita. Aku juga nggak berani untuk bertanya pada Ibuku sekarang.

“Maksudnya apa sih? Apa ini ada hubungannya?”

Ibu keluar dari kamar. Tanpa sengaja ada satu halaman ku robek dan ku simpan dalam kantong celana.

“Bayu, kamu tadi liat gak ada buku note tergeletak disi….ni?” Ibu bertanya.

“Oh iya ada! Ini ini, Bu.” Jawabku tanpa basa-basi.

Lalu Ibu mengambil buku diarinya dalam keadaan bingung dan curiga.

Aku balik ke kamar. Membuka lembaran kertas yang ku robek tadi.

“12 Januari 1989

Hari ini hari yang terang nan cerah. Hari ini adalah hari yang semoga akan membawa berkah. Hari yang selalu aku tunggu-tunggu. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan dengan suamiku. Happy anniversary, Ayah. I love you so much.

Kegiatan hari ini nggak cukup banyak, kok. Kedua anakku sudah mau mulai besar dan mereka sudah bisa diajak bicara bersama-sama. Mereka adalah anak-anak yang terpenting dalam hidupku.

Semoga hari ini berkenan dihati.”

Setelah aku membaca halaman itu, aku sama sekali tidak bisa berkata-kata.

Perasaanku masih sangat kaget. “Kenapa Ibu nggak pernah cerita tentang ini daridulu?” Dalam hatiku.

Masa lalu memang tidak mungkin dapat diubah. Masa lalu adalah ketika kita pernah melakukan hal yang sudah kita alami sebelumnya namun tidak dapat terulangi lagi. Masa lalu tidak akan selalu tertinggal, karena mereka akan selalu berkenan dihati.

Selama ini memang Ibu tidak pernah cerita tentang hal-hal seperti ini. Terutama keluarga. Memang yang aku tahu selama ini keluargaku hanyalah Ibu dan Anggi. Mereka adalah bidadari-bidadariku yang tinggal setiap saat.

Chapter 18 – “Sebuah Halangan”

Leave a comment

Dari dalam hatiku, ku bertanya..

“Kenapa daritadi cewek ini manggil aku terus? Kenapa bisa kenal aku?”

“Kamu baik-baik aja kan? Kok kamu pake kostum yang beda? Hari ini hari apa sih?” Wanita itu bertanya.

“Wah, mbak. Kayaknya mbak salah orang.” Balasku.

Lalu wanita itu terdiam… Dan setelah itu dia membalikan badannya dan pergi meninggalkan tempat.

“Kok dia nggak nyadar sih kalo gw yang ngomong? Nggak mungkin gw salah orang!” Kata wanita itu.

“Nggi….”

Ada lelaki lain menyapa dia.

“Y…a?” Jawabnya sambil bingung.

“Loh tadi kan kamu pake baju karyawan, kok sekarang bajunya beda lagi!?”

“Baju karyawan? Aku daritadi pake baju ini kok!” Jawab lelaki itu.

Aku melihatnya dari jauh, dan mulai bertanya-tanya lagi. Mengapa lelaki itu mempunyai wajah yang mirip dengan ayahku.

Akan tetapi, aku tidak berani untuk menanyakan hal tentang ini. Mungkin hanya seperti angin lewat saja. Di dunia ini pasti banyak muka yang mirip sama aku.

Kelanjutannya, saya sudah tidak tahu prediksinya apa setelah ini….

Chapter 17 – “Siapa Mereka?”

Leave a comment

12 Desember 2012

‘Kapan aku bisa bertemu Ayah lagi? Kapan aku bisa bertemu dengannya? Aku menyesal dengan kejadian sewaktu dulu ketika aku meninggalkannya. Aku telah memutuskan keputusan yang salah besar.

Aku rindu Ayah.’ –Diari Ibu.

Akhirnya aku keluar kamar melihat Ibu sedang memasak masak favoritku.

Setelah Ibu memasak lontong cap gomeh, lagi-lagi Ibu menulis buku diarinya. Entah kenapa lama-kelamaan aku penasaran ingin melihat isinya.

‘Bu, kenapa sih nulis terus? Nggak ada kerjaan lain apa?’ Tanyaku dengan muka jutek.

‘Kamu lagi kenapa sih? Kok nanyanya begitu? Ya, Ibukan udah bilang kalo Ibu suka nulis daridulu.’

Pembicaraan kali ini di ruang makan menjadi aneh, lalu kita berdua diam sejenak.

‘Kamu gimana sama Anggi? Tadi malem tumben pulangnya cepet.’

Aku terdiam, nggak mau jawab apa-apa.

‘Bayu? Smile dong’. Balas Ibu.

Aku membalas senyum tanpa bicara. Aku lagi nggak mau bahasin soal dia.

‘Iya Bu, dia baik-baik aja.’ Jawabku dengan perkiraan.

Percakapan kami semakin hening. Lalu Ibu memutuskan untuk balik ke kamar. Sayangnya, ia lupa untuk membawa buku diarinya.

Secara diam-diam, aku membuka dari halaman paling pertama, perlahan-lahan, hingga akhir. Bacaannya tidak ku baca semua. Hanya beberapa yang aku melihat sangat menarik perhatian, dan…..

Aku menemukan foto keluarga Ibu dengan kedua anaknya. Dan suaminya.

‘Siapa kedua orang ini?’ Tanyaku dalam hati.

Aku mencoba untuk membuka halaman pertama. Hari pertama Ibu menulis adalah pada tahun 1989.

Beliau mengaku bahwa menulis diari adalah salah satu inspirasi dari Ibunya juga. Ternyata menulis diari itu sudah turun temurun.

Lalu aku membuka halaman selanjutnya. Aku nggak membuka halaman secara detail, tapi tanpa sengaja aku menemukan sebuah halaman yang menarik perhatianku.

‘Loh ini? Apa ini? Kok ada disini?’

Chapter 16 – “Menatapmu Dari Jauh”

Leave a comment

5 Januari 2012

‘Setelah beberapa tahun sudah kutunggu, akhirnya datang juga. Nggak sia-sia datang dari jauh. Aku datang dari perantauan. Meskipun aku kangen dengan apa yang ada di kota Kudus, tapi Jakarta pasti bisa membantuku untuk hidup. Hari ini adalah hari pertama aku akan bekerja di sebuah hotel. Hotel bintang lima. Posisiku saat ini adalah menjadi koki dan customer service. Awalnya aku bingung apa itu customer service? Nggak ngerti aku sama bahasa inggris! Tapi pasti pekerjaan ini akan aku sukai, akan aku nikmati, walaupun aku harus meninggalkan ojek antar jemput setiap hari. Selamat tinggal ojek.’

Dua halaman diari kutulis dengan cepat. Tak lama itu aku pergi ke kantor. Aku masih tinggal di rumah yang sama, hanya saya aku masih meminjam motor dari si Abang.

‘Selamat pagi Ama, selamat bekerja ya.’ Kata seorang perempuan bekerja di frontdesk.

‘Selamat pagi juga, terima kasih. Anda juga.’ Balasku.

Baru masuk saja udah disapa. Ramah sekali orang-orang disini.

‘Halo Bang Ama, selamat datang! Akhirnya datang juga kamu!’ Kata Nathan.

‘Iya Bang, ini semua berkat Bang Nat, kalo Ama nggak kenal Bang Nat pasti nggak akan kayak begini ceritanya.’

‘Yaudah sekarang langsung ke ruangan training dulu gih, udah ditungguin.’ Kata Bang Nat.

‘Oke Bang, meluncurrr!’

Melihat dari isi gedungnya sungguh megah sekali. Gedung hotel ini ada 35 tingkat. Wow. Saya terpana.

Semua orang didalam hotel sungguh professional, mereka semua memakai jas dan berseragam rapi.

Selagi training, aku diajari bagaimana cara memasak dengan professional. Ternyata memasak sendiripun ada tekniknya juga. Begitu juga customer service, bagaimana cara menyapa customer dengan ramah, dan sebagainya.

Seusai training, aku keluar dari ruangan. Semua orang ada yang langsung pulang, ada yang langsung kembali bekerja, ada juga yang menunggu diluar ruangan entah mau kemana. Aku memutuskan untuk memakai seragam sebagai customer service. Hari ini kebagiannya jadi itu, besok aku jadi koki.

‘Bayu, kamu kok pake seragam? Tumben?’

Ada seorang perempuan menyapaku dari jauh, tapi aku lari dan tidak menatapi wajahnya.

‘Kenapa perempuan ngeliat mukaku terus manggil nama lain ya? Emang dia kenal sama aku!?’

Older Entries